Kategori Adversity Quotient (IQ)

Jpeg

Jpeg

1.   Kategori Adversity Quotient yang Quitter

Mereka yang quitter cenderung akan berhenti di tengah jalan ketika pesaingnya terus berjalan tanpa henti. Stoltz (2000) mengemukakan karakteristik orang quitter sebagai berikut menolak untuk ”mendaki”,bekerja sekedar untuk hidup, cenderung menghindari tantangan, jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati, cenderung menolak perubahan, terampil menggunakan kata-kata yang sifatnya membatasi, misalnya: tidak mau, mustahil, ini konyol, belum waktunya, bukan macam saya, dsb., kemampuannya kurang, tidak memiliki visi dan keyakinan akan masa depan, dan konstribusinya dalam tim sangat kecil.

Siswa quitter belajar seadanya sekedar ikut teman, sedikit ambisi, minim semangat, biasanya tidak kreatif (kecuali untuk menghindari tantangan), dan tidak banyak memberikan sumbangan yang berarti dalam kelompok. Siswa quitter berusaha menjauh dari permasalahan, begitu melihat kesulitan ia akan memilih mundur, dan tidak berani menghadapi permasalahan. Siswa quitter adalah mereka yang beranggapan bahwa matematika itu rumit, membingungkan, dan bikin pusing saja. Motivasi mereka sangat kurang, sehingga ketika menemukan sedidkit kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika mereka menyerah dan berhenti tanpa diiringi usaha sedikitpun.

2.    Kategori Adversity Quotient yang Camper

Mereka yang camper merasa cukup puas berada atau telah mencapai sebuah target tertentu, meskipun tujuan yang hendak dicapai masih jauh. Lebih lanjut Stoltz (2000) mengemukakan karakteristika orang camper sebagai berikut mau ”mendaki” dan ”berhenti” di pos tertentu dan merasa cukup sampai di situ, cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu, memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat, dan beberapa usaha, mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan kepuasan, menahan diri terhadap perubahan, tidak menyenangi perubahan besar karena merasa nyaman dengan kondisi yang ada, menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis, misalnya: ini cukup bagus, cukuplah di sini saja, saya sudah puas dsb., prestasinya tidak tinggi, konstribusinya tidak besar, dan meskipun telah melalui beberapa rintangan, namun mereka berhenti juga pada suatu tempat dan mereka ber ”kemah” di situ.

Siswa camper masih menunjukkan sejumlah inisiatif, sedikit semangat, beberapa usaha, tidak menggunakan seluruh kemampuannya, bisa mengerjakan yang menuntut kreativitas dan mengambil resiko dengan penuh perhitungan. Siswa camper adalah anak yang tak mau mengambil resiko yang terlalu besar dan merasa puas dengan kondisi atau keadaan yang telah dicapainya saat ini. Ia pun kerap mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal didapat. Anak kategori ini cepat puas atau selalu merasa cukup berada di posisi tengah. Mereka tidak memaksimalkan usahanya walaupun peluang dan kesempatannya ada. Tidak ada usaha untuk lebih giat belajar. Dalam belajar matematika siswa camper tidak berusaha semaksimal mungkin. Mereka berusaha sekedarnya saja. Mereka berpandangan bahwa tidak perlu nilai tinggi yang penting lulus, tidak perlu juara yang penting naik kelas.

3.   Kategori Adversity Quotient yang Climber

Mereka yang climber akan terus pantang mundur menghadapi hambatan yang ada di hadapannya. Mereka menganggap hambatan itu sebagai tantangan dan peluang untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi yang belum diraih oleh orang lain.

Stoltz (2000) juga mengemukakan karakteristika orang climber sebagai berikut membaktikan dirinya untuk terus ”mendaki”, selalu berpikir berbagai kemungkinan, menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki semangat tinggi, berjuang untuk mendapat yang terbaik, cenderung membuat segala sesuatu terwujud, tidak takut menjelajahi potensi-potensi yang ada, memahami dan menyambut baik risiko yang diakibatkan oleh langkah yang ditempuhnya, bersedia menerima kritik, menyambut baik setiap perubahan, bahkan ikut mendorong perubahan tersebut ke arah yang positif, menggunakan bahasa dan kata-kata yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, berbicara tentang apa yang dapat dikerjakan dan cara mengerjakannya, berbicara tentang tindakan, tidak sabar dengan kata-kata yang tidak didukung dengan perbuatan, memberikan konstribusi yang besar kepada tim karena dapat mewujudkan potensi yang ada pada dirinya, dan tidak asing dengan situasi yang sulit karena kesulitan merupakan bagian dari hidupnya.

Siswa climber menyambut baik tantangan, dapat memotivasi diri, memiliki semangat tinggi, mereka cenderung membuat segalanya terwujud, terus mencari cara baru untuk bertumbuh dan berkontribusi, bekerja dengan visi, seringkali penuh dengan inspirasi, selalu menemukan cara untuk membuat segala sesuatunya terjadi.

Siswa climber adalah anak yang mempunyai tujuan atau target. Untuk mencapai tujuan itu, ia mampu mengusahakan dengan ulet dan gigih. Tak hanya itu, ia juga memiliki keberanian dan disiplin yang tinggi. Ibarat orang bertekad mendaki gunung sampai puncak, ia akan terus mencoba sampai yakin berada di puncak gunung. Kategori inilah yang tergolong memiliki AQ yang baik. Siswa climber adalah mereka senang belajar matematika. Tugas-tugas yang diberikan guru diselesaikannya dengan baik dan tepat waktu. Jika mereka menemukan masalah matematika yang sulit dikerjakan, maka mereka berusaha semaksimal mungkin sampai mereka dapat menyelesaikannya. Mereka tidak mengenal kata menyerah. Mereka juga memiliki keberanian dan disiplin tinggi. Merekalah yang menjadi peserta olimpiade matematika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: