Fungsi Adversity Quotient dalam Pemecahan Masalah Matematika

Jpeg

Matematika mempunyai sifat khas kalau dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Matematika berkaitan dengan ide abstrak yang diberi simbol yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif. Menurut Hermes (Widayatun, 1999) semua konsep matematika memiliki sifat abstrak sebab hanya ada dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi dan menuntut pemahaman dan ketekunan berlatih.

Sampai dewasa ini matematika dianggap sulit oleh siswa. Mungkin hal ini disebabkan oleh objeknya yang abstrak atau cara mengajar guru yang kurang menarik. Setiap siswa tidak dapat menghindar dari kesulitan dalam belajar matematika. Perlu disadari bahwa pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Hanya tingkat kesulitannya yang berbeda-beda. Ada siswa yang merasa kesulitan hanya pada pokok bahasan tertentu, ada juga siswa yang merasakan kesulitan hanya pada bidang matematika tertentu, dan ada juga yang merasa kesulitan untuk seluruh materi matematika.

Sehingga dapat dipastikan setiap siswa yang belajar matematika pernah mengalami kesulitan. Disinilah potensi AQ sangat dibutuhkan dalam belajar matematika. Belajar pada dasarnya adalah mengatasi kesulitan. Mengalami kesulitan, berarti kita masih diberi kesempatan untuk mengasah kembali kepekaan perasaan, ketajaman pikiran, dan kecerdasan kita.

Stoltz (2000) menyatakan bahwa orang sukses dalam belajar, adalah orang yang memiliki AQ tinggi. AQ sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Carol (Waidi, 2006) menyatakan bahwa siswa yang mempunyai AQ tinggi memiliki motivasi dan prestasi belajar tinggi. Kesulitan baginya justru membuatnya menjadi siswa pantang menyerah. Mereka mampu mengubah kesulitan menjadi peluang. Mereka adalah orang optimis yang memandang kesulitan bersifat sementara dan bisa diatasi.

Faktor dominan pembentuk AQ adalah sikap pantang menyerah. Sikap inilah yang perlu ditanamkan kepada setiap siswa dalam belajar matematika. Kecerdasan ini menyangkut kemampuan seseorang untuk tetap gigih dan tegar dalam kesulitan dan penderitaan demi cita-cita. Saatnya membangun cara pandang siswa bahwa kesulitan adalah bagian dari pertumbuhan menuju kemandirian melalui kegigihan dan ketekunan. Kesulitan tidak perlu disingkirkan dari hadapan anak, melainkan keberanian perlu ditumbuhkan dalam diri anak untuk menghadapi kesulitan dalam belajar di sekolah. Materi dan metode pembelajaran matematika hendaknya tidak hanya menarik namun juga menantang anak. Pembelajaran matematika yang demikian itu adalah pembelajaran pemecahan masalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: