Sumber Etika Bisnis Menurut Islam

Pada awalnya aturan mengenai perilaku ekonomi yang Islami ditetapkan oleh Al-Qur’an. Jadi secara etika, Al-Qur’an mengatur perilaku ekonomi dalam bidang produksi, konsumsi, distribusi dan sirkulasi. Hukum Allah dalam Al-Qur’an terbagi dalam dua bagian yaitu yang terang (muhkam) dan yang mutasyabih (samar). Hukum mutasyabih yang ditemukan oleh ummat Islam di zaman Rasulallah telah dijelaskan lewat Sunnah.

Setelah Al Qur’an, Sunnah merupakan aturan kedua yang mengatur perilaku manusia. Sunnah adalah praktek-praktek yang dicontohkan oleh Rasulallah SAW, serta ucapan-ucapannya (Hadist). Keterangan-keterangan dalam sunnah memiliki formasi yang lebih operasional yang merupakan bentuk praktek dari konsep-konsep Al-Qur’an. Sunnah menguraikan bagaimana tata cara zakat, bentuk kerja sama ekonomi, perdagangan, pembelanjaan harta dan sebagainya. Dalam konteks waktu, sunnah menjelaskan perilaku ekonomi masa lampau. Dengan kerangka hukum Islam yang dapat menjangkau semua dimensi waktu terdapat istilah-istilah ijma dan qiyas (Muhammad dan Faurori: 2002).

Menurut Zainal (2003) sumber hukum dalam etika bisnis antara lain:

  1. Al-qur’an, secara etika Al-qur’an mengatur perilaku ekonomi dalam bidang produksi, konsumsi, sirkulasi (distribusi).
  2. Sunnah,  sunnah adalah praktek-praktek yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, serta ucapan-ucapan (hadits). Sunnah menguraikan bagaimana tata cara zakat, bentuk kerja sama ekonomi, perdagangan, pembelanjaan harta dan sebagainya.
  3. Jima, merupakan salah satu prinsip hukum baru yang timbul sebagai akibat melakukan penalaran dalam mengahdapi masyarakat luas dengan cepat dari masyarakat Islam dini sampai generasi berikutnya. Jima tidak hanya dimaksudkan untuk melihat kebenaran masa kini dan masa yang akan datang tetapi juga untuk membina kebenaran masa lampau.
  4. Ijtihad, secara teknis ijtihad berarti meneruskan setiap usaha untuk menetukan sedikit banyaknya kemungkinan seatu persoalan syari’at. Dalam memecahkan suatu persoalan hukum mujtihad pertama-tama harus mencari keterangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
  5. Qiyas, merupakan usaha untuk mengembalikan atau mempersamakan suatu kejadian yang tidak ada ketentuan nash, dengan kejadian lain yang sudah ada ketentuan hukum dalam nash, karena ada sebabyang bisa diidentifikasi. Qiyas sangat diperlukan ketika perubahan banyak terjadi pada setiap zaman, seperti apakah bunga bank sama dengan riba dan sebagainya.

Sebagai sumber nilai dan sumber ajaran, Al-Qur’an pada umumnya memiliki sifat yang umum (tidak terperinci), karena itu diperlukan upaya dan kualifikasi tertentu agar dapat memahaminya. Adapun pandangan Al-Qur’an mengenai etika bisnis adalah terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an, antara lain sebagai berikut (Faurori: 2003):

Surat at-Taubah (9): 111 ditegaskan bahwa, ” Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin harta dan jiwa mereka… Siapakah  yang lebih menepati janjinya (selain) Allah maka bergembiralah dengan jual-beli yang kamu lakukan.Dan itulah kemenangan yang besar.

Bekerja juga dikaitkan dengan iman, pernyataan ini terdapat dalam surat Al-Furqan (25): 23 yang menegaskan bahwa “Amal-amal yang tidak disertai iman tidak akan berarti di sisiNya”.

Di dalam al-Qur’an juga ada beberapa tema yang berkaitan dengan konsep bisnis. Diantaranya adalah kata : al Tijarah, al-bai’u, tadayantum, dan isytara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: