Pengertian Pasar Menurut Islam

Pasar mendapat kedudukan yang penting dalam perekonomian Islam. Rasulullah SAW sangat menghargai harga yang dibentuk oleh pasar sebagai harga yang adil. Oleh karena itu, Islam menekankan adanya moralitas seperti persaingan yang sehat, kejujuran, keterbukaan dan keadilan. Implementasi nilai-nilai moralitas tersebut dalam pasar merupakan tanggungjawab bagi setiap pelaku pasar. Bagi seorang muslim, nilai-nilai ini merupakan refleksi dari keimanannya kepada Allah, bahkan Rasulullah memerankan dirinya sebagai muhtasib di pasar. Beliau menegur langsung transaksi perdagangan yang tidak menginahkan nilai-nilai moralitas.

Allah SWT menerangkan bahwa mencari harta dibolehkan dengan cara berniaga atau berjual beli dengan dasar suka sama suka tanpa suatu paksaan apapun. Karena jual beli yang dilakukan secara paksa tidak sah walaupun ada bayaran atau penggantinya. Terdapat beberapa bentuk transaksi yang dapat dikategorikan terlarang (Zainal: 2013), antara lain:

  1. Tidak jelasnya takaran dan spesifikasi barang yang dijual
  2. Tidak jelas bentuk barangnya
  3. Informasi yang diterima tidak jelas sehingga pembentukan harga tidak berjalan dengan mekanisme yang sehat
  4. Penjual dan pembeli tidak hadir di pasar sehingga perdagangan tidak berdasarkan harga pasar.

Selain itu, untuk mendapat keberkahan dalam jual beli, Islam mengajarkan prinsip-prinsip moral sebagai berikut:

  1. Jujur dalam menakar dan menimbang
  2. Menjual barang yang halal
  3. Menjual barang yang baik mutunya
  4. Tidak menyembunyikan cacat barang
  5. Tidak melakkan sumpah palsu
  6. Longgar dan murah hati
  7. Tidak menyaingi penjual lain
  8. Tidak melakukan riba
  9. Mengeluarkan zakat jika telah sampai nisab dan haulnya

Dalam Islam, pasar merupakan wahana transaksi ekonomi yang ideal, karena secara teoretis mupun praktis, Islam menciptakan suasana keadaan pasar yang dibingkai oleh nilai-nilai syari’ah, meskipun tetap dalam suasana bersaing. Artinya, konsep pasar dalam Islam adalah pasar yang ditumbuhi nilai-nilai syari’ah seperti keadilan, keterbukaan, kejujuran, dan persaingan sehat yang merupakan nilai-nilai universal, bukan hanya untuk muslim tetapi juga non-muslim.

Dengan mengacu kepada Al-Qur’an dan praktik kehidupan pasar pada masa Rasulullah dan para sahabatnya, Ibnu Taymiyyah menyatakan bahwa ciri khas kehidupan pasar yang Islamiah adalah :

  1. Orang harus bebas untuk keluar dan masuk pasar. Memaksa orang uyntuk menjual barang dagangan tanpa ada kewajiban untuk menjual merupakan tindakan yang tidak adil dan ketidakadilan itu dilarang.
  2. Adanya informasi yang cukup mengenai ketentuan-ketentuan pasar dan barang-barang dagangan. Tugas muhtasib adalah mengawasi situasi pasar dan menjaga agar informasi secara sempurna diterima oleh para pelaku pasar.
  3. Unsur-unsur monopolistik harus dilenyapkan dari pasar. Kolusi antara penjual dan pembeli harus dihilangkan. Pemerintah boleh melakukan interfensi apabila unsur monopolistik ini mulai muncul.
  4. Adanya kenaikan dan penurunan harga yang di sebabkan naik turunnya tingkat permintaan dan penawaran.
  5. Adanya homogenitas dan standarisasi produk agar terhindar dari pemalsuan produk, penipuan dan kecurangan kualitas barang.
  6. Terhindar dari penyimpangan terhadap kebebasan ekonomi yang jujur, seperti sumpah palsu, kecurangan dalam menakar, menimbang, dan mengukur, dan niat yang buruk dalam perdagangan.pelaku pasar juga dilarang menjual barang-barang haram seperti minuman keras, alat perjudian dan pelacuran dan lain-lain.

Dengan memperhatikan kriteria pasar Islami tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pasar Islami itu dibangun atas dasar terjaminnya persaingan yang sehat yang dibingkai dalam nilai dan moralitas Islami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: