Pengertian Bisnis Menurut Islam

Bisnis selalu memainkan peranan penting dalam kehidupan ekonomi dan sosial bagi semua orang disepanjang abad dan semua lapisan masyarakat. Sejak awal agama Islam lahir mengizinkan adanya bisnis, karena Rasulullah SAW sendiri pada awalnya juga berbisnis dalam jangka waktu yang cukup lama (Shihab: 1999). Dalam hal perdagangan atau bisnis, Rasulullah SAW memberikan apresiasi yang lebih, seperti sabda beliau ”hendaklah kamu berdagang, karena didalamnya terdapat 90% pintu rezeky” (H.R Ahmad). Namun, Rasulullah SAW tidak begitu saja meninggalkan tanpa aturan, kaidah, ataupun batasan yang harus diperhatikan dalam menjalankan perdagangan atau bisnis.

Diantara nilai-nilai yang penting dalam perdagangan atau bisnis adalah sifat kasih sayang yang telah dijadikan Allah sebagai trade mark. Islam menghendaki perdagangan yang berlangsung bebas dan bebas dari distorsi pasar. Hal ini bertujuan untuk memelihara unsur keadilan semua pihak dan Islam mengatur agar kegiatan ekonomi di pasar berjalan secara adil.

Pasar mendapatkan kedudukan yang penting dalam perekonomian Islam. Rasulullah sangat menghargai harga yang dibentuk oleh pasar sebagai harga yang adil. Oleh karena itu, Islam menekankan adanya moralitas seperti persaingan yang sehat, kejujuran, keterbukaan, dan keadilan. Implementasi nilai-nilai tersebut merupakan tanggung jawab bagi setiap pelaku pasar. Bagi seorang muslim, nilai-nilai ini ada sebagai refleksi dari keimanannya kepada Allah, bahkan Rasulullah memerankan dirinya sebagai muhtasib di pasar. Beliau menegur langsung transaksi perdagangan yang tidak mengindahkan moralitas.

Dengan mengacu pada Al-Qur’an dan praktek kehidupan pasar pada masa Rasulullah dan para sahabatnya, Ibnu Taymiyyah menyatakan bahwa ciri khas kehidupan pasar yang Islami adalah (Mujahidin: 2005)  :

  1. Orang harus bebas keluar masuk pasar. Memaksa orang untuk menjual  barang dagangan tanpa ada kewajiban untuk menjual merupakan tindakan tidak adil dan ketidakadilan itu dilarang.
  2. Adanya informasi yang cukup mengenai kekuatan-kekuatan pasar dan barang-barang dagangan.
  3. Unsur-unsur monopilistik harus dilenyapkan dari pasar. Kolusi antar  penjual dan pembeli harus dihilangkan. Pemerintah dibolehkan melakukan  intervensi.
  4. Adanya kenaikan dan penurunan harga yang disebabkan oleh naik turunnya tingkat permintaan dan penawaran.
  5. Adanya homogenitas dan standarisasi produk agar terhindar dari pemalsuan produk, penipuan, dan kecurangan kualitas barang.
  6. Terhindar dari penyimpangan terhadap kebebasan ekonomi yang jujur, seperti sumpah palsu, kecurangan menakar, dan niat yang buruk dalam perdagangan. Pelaku pasar juga dilarang menjual barang-barang yang haram.

Akan tetapi kenyataan yang kita hadapi sekarang dimasyarakat, telah terjadi pergeseran etika dalam dagang atau bisnis. Salah satu contoh adalah  maraknya para pedagang mengurangi timbangannya, dijualnya ayam bangkai (tiren) dan daging gelongongan. Hal ini menandakan timbulnya gejala merosotnya rasa solidaritas, tangung jawab sosial dan tingkat kejujuran serta adanya persaingan yang tidak sehat dan berbagai masalah bisnis lainnya. Ketika terjadi pergeseran tersebut, maka terjadilah suatu penyimpangan-penyimpangan didalam hubungan bisnis.

Pada masa Rasulullah, nilai-nilai moralitas sangat diperhatikan dalam kehidupan pasar. Bahkan sampai pada masa awal kerasulannya, beliau adalah seorang pelaku pasar yang aktif, dan kemudian menjadi seorang pengawas pasar yang cermat sampai akhir hayatnya. Etika merupakan studi sistematis tantang tabiat konsep nilai, baik, buruk,  benar, salah dan lain sebagainya dan prinsip-prinsip umum yang membenarkan untuk mengaplikasikannya atas apa saja Zubair (dalam Nasution: 2006). Etika bisnis Islam bertujuan mengajarkan manusia untuk menjalin kerjasama, tolong menolong, dan menjauhkan diri dari sikap dengki dan dendam serta hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah. Etika bisnis dalam Islam juga berfungsi sebagai controlling (pengatur) terhadap akitifitas ekonomi pedagang.

Dengan kenyataan tersebut, maka prinsip pengetahuan akan etika bisnis Islam mutlak harus dimiliki oleh setiap individu yang melakukan kegiatan ekonomi baik itu seorang pebisnis atau pedagang dalam menjalankan aktivitas ekonominya, yangbertujuan untuk menghindarkan diri dari berbagai macam tindakan yang dilarang oleh Allah SWT. Misalnya mencuri, menyuap, berjudi, menipu, mengaburkan, mengelabui, riba, pekerjaan lain yang diperoleh dengan jalan yang tidak dibenarkan. Tetapi apabila sebagian itu diperoleh atas dasar saling suka sama suka, maka persyaratan dalam perdagangan yang ditegaskan dalam Al- Qur’an telah dijalani.

Dalam melakukan aktifitas bisnis  harus tetap berpedoman kepada etika agar pencapaian bisnis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Bisnis merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan sudah menjadi kodrat manusia untuk diciptakan sebagai makhluk yang bergelut di bidang bisnis. Karena begitu pentingnya kegiatan bisnis dalam kehidupan manusia, tidak heran jika Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah memberi tuntunan dalam bidang bisnis.

Bisnis yang selama ini dikesankan sebagai kegiatan usaha mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, bahkan harus ditempuh dengan cara kotor dan tidak etis. Etika bisnis sangat penting untuk dikemukakan dalam era globalisasi yang seringkali mengabaikan nilai-nilai moral dan etika. Karena itu, Islam menekankan agar aktifitas bisnis manusia dimaksudkan tidak semata-mata sebagai alat pemuas keinginan dan kebutuhan hidup saja, tetapi lebih pada upaya pencarian kehidupan berkeseimbangan disertai prilaku positif sesuai etika bisnis dalam Islam. Karena suatu bisnis akan bernilai apabila dapat memenuhi kebutuhan material dan juga kebutuhan spiritual secara seimbang, tidak mengandung kebatilan, kerusakan dan kedzaliman. Akan tetapi mengandung nilai kesatuan, keseimbangan, kehendak bebas, pertanggungjawaban, kebenaran, kebajikan dan kejujuran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: