Kategori Bisnis Menurut Islam

Bisnis dalam Al-Qur’an dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu bisnis yang menguntungkan, bisnis yang merugi, dan pemelihara prestasi, hadiah dan hukuman. 

Pertama, bisnis yang menguntungkan mengandung tiga elemen dasar, yaitu :

a). Mengetahui investasi yang paling baik;

b). Membuat keputusan yang logis, sehat dan masuk akal;

c). Mengikuti perilaku yang baik.

Kedua, bisnis yang merugi. Bisnis ini merupakan kebalikan dari bisnis yang pertama karena ketidakadaan atau kekurangan beberapa elemen dari bisnis yang menguntungkan.

Ketiga, pemelihara prestasi, hadiah, dan hukuman. Dalam hal ini, Al-Qur’an menyoroti bahwa segala perbuatan manusia tidak akan bisa lepas dari sorotan dan rekaman Allah SWT. Maka dari itu, siapapun yang melakukakan presatsi yang positif akan mendapatkan pahala (reward) begitu pula sebaliknya Djakfar (dalam Fauzia: 2013).

Etika bisnis islam sebenarnya telah diajarkan Nabi SAW saat menjalankan perdagangan. Karakteristik Nabi, sebagai pedagang adalah selain dedikasi dan keuletannya juga memiliki sifat shiddiq, fathanah, amanah, dan tabligh. Ciri-ciri itu masih ditambah istiqomah, yaitu:

  1. Shiddiq, berarti mempunyai kejujuran dan selalu melandasi ucapan, keyakinan dan amal perbuatan atas dasar nilai-nilai yang diajarkan Islam. Istiqomah atau konsisten dalam iman dan nilai-nilai kebaikan, meski menghadapi godaan dan tantangan. Istiqomah dalam kebaikan ditampilkan dalam keteguhan, kesabaran serta keuletan sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal.
  2. Fathanah, berarti mengerti, memahami, dan menghayati secara mendalam segala yang menjadi tugas dan kewajibannya. Sifat ini akan menimbulkan kreatifitas dan kemampuan melakukan berbagai macam inovasi yang bermanfaat.
  3. Amanah,  tanggungjawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Amanah ditampilakan dalam keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal, dan ihksan (kebajikan) dalam segala hal.
  4. Tabliqh, mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Para pelaku usaha dituntut mempunyai kesadaran mengenai etika dan moral, karena keduanya merupakan keutuhan yang harus dimiliki. Pelaku usaha atau perusahaan yang ceroboh dan tidak menjaga etika, tidak akan berbisnis secara baik sehingga dapat mengancam hubungan sosial dan merugikan konsumen, bahkan dirinya sendiri. Etika dijadikan pedoman dalam kegiatan ekonomi dan bisnis, maka ketika etika bisnis menurut ajaran Islam juga dapat digali langsung dari Al-Qur’an dan Hadist Nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: