Indikator Etika Bisnis Islam

Ajaran etika dalam Islam pada prinsipnya manusia dituntut untuk berbuat baik pada dirinya sendiri, kepada sesama manusia dan lingkungan alam disekitarnya, dan kepada Tuhan selaku penciptanya. Oleh karena itu, untuk dapat berbuat baik pada semuanya itu, manusia di samping diberi kebebasan (free will), hendaknya harus memperhatikan keesaan Tuhan (tauhid), prinsip keseimbangan (tawazun = balance) dan keadilan (qist). Di samping tanggung jawab (responsibility) yang akan diberikan di hadapan Tuhan (Djakfar: 2007).

            Rasulullah adalah seorang pedagangan bereputasi internasional yang mendasarkan bangunan bisnisnya kepada nilai-nilai illahi (transenden). Dengan dasar itu Nabi membangun sistem ekonomi Islam yang tercerahkan. Prinsip-prinsip bisnis yang ideal ternyata pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Terdapat beberapa panduan Nabi Muhammad dalam bisnis, sebagai berikut :

  1. Prinsip esensial dalam bisnis adalah kejujuran.  Dalam doktrin Islam, kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tatanan ini, beliau bersabda “ tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (H.R. Al-Quzwani) . “ siapa yang menipu kami, maka dia bukan kelompok kami” (H.R. Muslim). Rasulullah sendiri selalu bersikap jujur dalam berbisnis. Beliau  melarang  para pedagang meletakkan barang busuk di sebelah bawah dan barang baru dibagian atas.
  2. Kesadaran tentang signifikansi sosial kegiatan bisnis. Pelaku bisnis menurut Islam, tidak hanya sekedar mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana yang diajarkan oleh Bapak ekonomi
  3. Tidak melakukan sumpah palsu. Nabi Muhammad SAW sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnis, dimana dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi bersabda “Dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual,tetapi hasilnya tidak berkah”. Praktik sumpah palsu dalam kegiatan bisnis saat ini sering dilakukan, karena dapat meyakinkan pembeli, dan pada gilirannya meningkatkan daya beli atau pemasaran.
  4. Ramah – tamah. Seorang pelaku bisnis, harus bersikap ramah dalam melakukan bisnis. Nabi Muhammad SAW mengatakan “Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis” (H.R. Bukhari dan Tarmizi).
  5. Tidak melakukan ihtiar. Ihtiar ialah (menumpuk dan menyimpan barang dalam masa tertentu, dengan tujuan agar harganya suatu saat menjadi naik dan keuntungan besar pun diperoleh). Rasulullah melarang keras perilaku bisnis semacam itu.
  6. Takaran, ukuran dan timbangan yang benar. Dalam perdagangan, timbangan yang benar dan tepat harus benar-benar diutamakan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al Muthaffifii (83:10-12) yang artinya “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari Bisnis tidak boleh mengganggu kegiatan ibadah kepada Allah, dan dari mendirikan shalat dan membeayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati dan penglihatan menjadi goncang”.
  7. Komoditi bisnis yang dijual adalah barang yang suci dan halal, bukan barang yang haram, seperti babi, anjing, minuman keras, ekstasi dan sebagainya. Nabi Muhammad SAW bersabda , “ Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan “patung-patung” (H.R. Jabir).
  8. Bisnis yang dilaksanakan bersih dari unsur riba. Firman Allah SWT dalam surah al Baqarah (2: 278) yang artinya “ Hai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu beriman” dan surah al Baqarah (2: 275) yang artinya “Pelaku dan pemakan riba dinilai Allah sebagai orang yang kesetanan”. Oleh karena itu Allah dan RasulNya mengemukakan perang terhadap riba.    kapitalis, Adam Smith, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta’wun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis.

Prinsip-prinsip tersebut diajarkan Islam untuk diterapkan dalam kehidupan di dunia perdagangan yang memungkinkan untuk memperoleh keberkahan usaha. Dalam Islam, pasar merupakan wahana transaksi ekonomi yang ideal, karena secara teoretis maupun praktis, Islam menciptakan suatu kadaan pasar yang dibingkai oleh nilai-nilai syari’ah meskipun tetap dalam keadaan bersaing. Artinya konsep pasar dalam Islam adalah pasar yang ditumbuhi nilai-nilai syariah seperti keadilan, keterbukaan, kejujuran, dan persaingan sehat yang merupakan nilai-nilai universal, bukan hanya untuk muslim tetapi juga non-muslim.

Etika bisnis memberikan pedoman bagaimana cara seseorang seharusnya bertindak dalalm struktur bisnis tertentu, serta bagaimana bisnis itu memajukan moralitas dan menghindari tindakakn amoral Simorangkir (dalam Harahap: 2011). Ada beberapa yang dianggap sebagai etika bisnis:

a. Tidak memanfaatkan atau mengambil kekayaan perusahaan untuk kepentingan pribadi secara tidak sah

b.  Tidak membenarkan adanya hubungan love affair atau perselingkuhan dengan sejawat, atasan, atau bawahan dalam perusahaan

c. Perusahaan baik operasi maupun alat-alatnya tidak membahayakan nyawa pegawai dan masyarakat

d.  Jangan memotong hak karyawan

e.  Tidak melakukan pemasangan iklan yang tidak benar

f.  Benar-benar memnuhi jaminan yang disampaikan atau dijanjikan

g.  Mematuhi kontrak atau akad

h.  Jangan menjual barang yang rusak

i. Tidak melakukan kebohongan atas produk, jasa, dan kualitasnya.

Dalam etika bisnis Islam terdapat beberapa prinsip yang menjadi acuan dalam melakukan bisnis sesuai dengan ajaran Islam, yaitu keseimbangan atau dalam beberapa literatur disebut juga dengan keadilan (‘adl), kehendak bebas (free will), tanggung jawab (responsibility), kebenaran (Bekuum: 2004).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: