Pengukuran Budaya Organisasi

Budaya mengimplementasikan adanya dimensi atau karakteristik tertentu yang berhubungan secara erat dan interdependen. (Robbins: 2002) menyatakan budaya organisasi memiliki beberapa karakteristik, antara lain:

  1. Inovasi dan Pengambilan Resiko

Tingkat daya pendorong karyawan untuk bersikap inovatif dan berani mengambil resiko.

  1. Perhatian Terhadap Detail

Tingkat tuntutan terhadap karyawan untuk mampu memperhatikan ketepatan, analisis, dan perhatian terhadap detail.

  1. Orientasi Terhadap Hasil

          Tingkatan tuntutan terhadap manajemen untuk lebih memasukan perhatian pada hasil, dibandingkan perhatian pada teknik dan proses yang digunakan untuk meraih hasil tersebut.

  1. Orientasi Terhadap Individu

          Tingkat keputusan manajemen dalam mempertimbangkan efek-efek hasil terhadap individu yang ada didalam organisasi.

  1. Orientasi Terhadap Tim

Tingkat aktivitas pekerjaan yang diatur dalam tim bukan secara perorangan

  1. Keagresifan

          Tingkat tuntutan terhadap orang-orang agar berlaku agresif dan besaing dan tidak bersikap santai.

  1. Kemantapan

          Tingkat penekanan aktivitas organisasi dalam mempertahankan status quo berbanding pertumbuhan.

 

Tiap karakteristik ini berlangsung pada suatu kesatuan dari rendah ketinggi. Dengan menilai organisasi berdasarkan tujuh karaktersistik ini akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi. Gambaran ini menjadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dmiliki para anggota mengenai organisasi itu, bagaimana urusan diselesaikan di dalamnya dan cara para anggota diharapkan berperilaku.

In Search of Excellence, Tom Peters dan Robert Waterman (dalam Buhler: 2004) menyatakan bahwa perusahaan yang dianggap berkinerja tinggi memiliki delapan karakter inti yang menjadi poros budaya organisasi tersebut. Antara lain:

  1. Berorientasi tindakan

Perusahaan yang istimewa cepat bertindak membuat keputusan jauh sebelum pesaing mereka melakukannya.

  1. Menghargai pelanggan

          Organisasi ini sangat menghargai pelanggan. Organisasi ini benar-benar memenuhi janji dan berbuat lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan pelanggan.

  1. Mendorong inovasi

          Perusahaan yang bekinerja tinggi menggunakan unit-unit kecil untuk membangun iklim yang mendorong inovasi dan kreativitas.

  1. Percaya bahwa orang adalah aset terpenting mereka

Mereka menghargai karyawan. Manajer dan karyawan dalam organisasi saling menghargai.

  1. Menggunakan MBWA

Perusahaan yang berkinerja tinggi menggunakan Management By Walking Around. Manajemen berkontak langsung dengan para karyawannya. Manajer tidak boleh duduk diam harus ada interaksi yang kuat antara manajemen dan karyawan.

  1. Berfokus pada kompetensi inti

          Perusahaan berfokus pada yang terbaik yang bisa mereka lakukan dan tidak berusaha mencakup terlalu banyak bisnis. Mereka tidak berusaha untuk menjadi segalanya bagi semua orang.

  1. Merampingkan organisasi

          Perusahaan berkinerja tinggi ialah perusahaan yang tidak berat kepuncak. Tidak mengutamakan pembentukan unit-unit dengan orang yang banyak, tetapi lebih fokus kepada pengaruh yang dibuat oleh orang-orangnya.

  1. Mematuhi nilai-nilai organisasi

Kepatuhan terhadap nilai-nilai organisasi dapat mengurangi kebutuhan akan aturan di seluruh organisasi.

Menurut Luthans (2006) budaya organisasi adalah merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku organisai.

  1. Norma,
  2. Nilai-nilai dominan
  3. Peraturan-peraturan
  4. Iklim organisasi

 

          Menurut Mas’ud (2004) secara umum budaya organisasi didefinisikan sebagai serangkaian taat nilai, keyakinan dan pola perilaku yang membentuk identitas organisasi serta perilaku para anggotanya. Variabel budaya organisasi merupakan variabel independen yang dibentuk dari 6 (enam) indikator, yaitu: profesionalisme, jarak dari manajemen, percaya pada rekan sekerja, keteraturan, permusuhan dan integrasi.

          Budaya organisasi dapat diukur keberadaannya, tujuan pengukuran budaya organisasi untuk mencari tahu seberapa kuat anggota organisasi dalam memegang nilai-nilai yang diterapkan. Oleh karena itu, sasaran pengukuran budaya organisasi dilakukan pada anggota organisasi dan pegawai dalam organisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: