Konsep Kinerja

Jpeg

Jpeg

Seorang karyawan akan memiliki tingkat kinerja yang tinggi apabila terdapat kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuannya. Apabila hal tersebut dapat terpenuhi, maka akan timbul perasaan tanggung jawab terhadap pekerjaanya dan kesediaan untuk ikut berpartisipasi dalam mencapai tujuan organisasi melalui pelaksanaan tugas-tugas secara maksimal. Oleh karena itu, organisasi perlu memperhatikan pengelolaan sumber daya manusia (karyawan) untuk menghasilkan kinerja yang tinggi guna meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan.

(Sutrisno: 2013) menyatakan bahwa prestasi kerja atau kinerja adalah sebagai hasil kerja yang telah dicapai seseorang dari tingkah laku kerjanya dalam melaksanakan aktivitas kerja. Informasi tentang tinggi rendahnya prestasi kerja seseorang karyawan tidak dapat diperoleh begitu saja, tetapi diperoleh melalui proses yang panjang yaitu proses penilaian prestasi kerja karyawan yang disebut dengan istilah performance appraisal.

Menurut (Syukur: 2012) kinerja merupakan suatu kemampuan kerja atau prestasi kerja yang diperlihatkan oleh seseorang dalam memperoleh hasil kerja optimal. Terdapat dua faktor kinerja seseorang yaitu:

1.             Faktor kemampuan, Secara umum kemampuan terbagi menjadi dua, yaitu kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge dan skill).

2.             Faktor Motivasi, Motivasi terbentuk dari sikap karyawan dalam mengatasi situasi kerja.

Menurut (Mangkunegara: 2001) terdapat dua faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai yaitu:

1.             Faktor individu

                   Secara psikologis. Individu ang normal adalah individu yang memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya (jasmaniah). Dengan adanya integritas yang tinggi antara psikis dan fisik maka indicidu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik.

2.             Faktor lingkungan organisasi

Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai kinerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, otoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola konsumsi yang efektif, hubungan kerja yang harmonis, iklim kerja yang respek dan dinamis, peluanh berkarir dan fasilitas kerja yang relatif memadai.

Menurut (Robbins: 2002) mengatakan hampir semua cara pengukuran kinerja mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1.       Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan. Ini berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan.

2.       Kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran kualitatif keluaran mencerminkan pengukuran ”tingkat kepuasan”, yaitu seberapa baik penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan bentuk keluaran.

3.       Ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan. Pengukuran ketepatan waktu merupakan jenis khusus dari pengukuran kuantitatif yang menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.

Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan individual menurut (Mathis dan Jackson: 2006), yaitu:

1.             Kemampuan individu dalam melaksanakan pekerjaan tersebut

2.             Tingkat usaha yangdilakukan

3.             Dukungan organisasi

Sedangkan menurut (Simanjutak: 2003) kinerja setiap orang banyak faktor yang dapat digolongkan pada 3 (tiga) kelompok, yaitu:

1.             Kompetensi individu, yaitu kemampuan dan keterampilan melakukan kerja

2.             Dukungan organisasi, kinerja setiap orang tergantung pada dukungan organisasi dalam bentuk pengorganisasian, penyediaan sarana dan prasaranan kerja, pemilihan teknologi, kenyamanan lingkungan kerja, serta kondisi dan syarat kerja

3.             Kinerja setiap orang sangat tergantung pada kemampuan manajerial para manajemen atau pemimpin

Berdasarkan pengertian diatas banyak faktor yang mempengaruhi kinerja, Namun secara keseluruhan kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung dan penghambat berjalannya suatu pencapaian kinerja yang maksimal faktor tersebut meliputi faktor yang berasal dari intern maunpun ekstern. Faktor internal yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. Misalnya, kinerja seseorang baik disebabkan karena mempunyai kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang itu mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak memiliki upaya-upaya untuk memperbaiki kemampuannya. Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan. Seperti perilaku, sikap, dan tindakan-tindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan, fasilitas kerja, dan iklim organisasi. Faktor internal dan faktor eksternal ini merupakan jenis-jenis atribusi yang mempengaruhi kinerja seseorang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: