Sejarah Al-Farabi

  1. Sejarah Al-Farabi

       Al Farabi Nama lengkapnya adalah Abunasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Auzalagh yang biasa di singkat Al-Farabi (870 – 950 M). Beliau adalah seorang, Muslim keturunan Parsi, yang dilahirkan di Wasij, Distrik Farab (Turkestan). Sebutkan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, di mana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M).

Ayahnya bernama Muhammad Ibn Auzalgh adalah seorang Jendral Panglima Perang Parsi. Ayahnya adalah seorang Iran dan kawin dengan wanita Turkestan. Kemudian ia menjadi Perwira tentara Turkestan . Karena itu, Al-Farabi dikatakan berasal keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran. Pada tahun 330 H (941 M), ia pindah ke Damsyik/Damaskus, dan di sini ia mendapat kedudukan yang baik dari Saifudaulah, Khalifah Dinasti Hamdan di Halab (Aleppo), sehingga ia diajak turut serta dalam suatu pertempuran untuk merebut kota Damsyik, kemudian ia menetap di kota ini sampai wafatnya pada tahun 337 H (950 M) pada usia 80 tahun.[1]

  1. Pemikiran Al-Farabi

Corak pemikiran Al-Farabi adalah Syiah Batini, karena usahanya untuk mempertemukan aliran-aliran filsafat yang didasarkan bahwa aliran-aliran tersebut pada hakikatnya adalah satu. Al-Farabi mendefenisikan filsafat adalah al-ilmu bilmaujudat bima ia al- maujudad, yang berarti sesuatu ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada. Dibawah ini penulis sajikan corak pemikiran dari Al-Farabi, yang terdiri dari enam bidang.

1. Metafisika

Pendapat Al-Farabi dalam bidang metafisiska adalah Al-maujud al-awwal yang bermakna sebagai sebab dari segala yanga ada, untuk membuktikan adanya Tuhan ia mengemukakan bahwa segala yang ada al-wujud. Wajib al-wujud artinya wujudnya tidak boleh tidak ada, ada dengan sendirinya, esensi dan wujudnya adalah sama dan satu. Sedangkan mumkin al-wujud adalah sesuatu yang sama antara yang mempunyai wujud dan tidak.

Hakikat Tuhan adalah esa dan tidak ada sekutu baginya, wujud tuhan itu sempurna karena sempurnanya tidak ada terdapat kesempurnaan itu pada yang lain. Al-Farabi berpandangan tentang sifat-sifat tuhan yang mana ia beranggapan, berpendapat yang sejalan dengan muktazilah, yakni sifat tuhan tidak berbeda dengan substansi-Nya.[2]

2. Emanasi

Al-Farabi berpendapat Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul suatu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama (al wujudul awwal) dan dengan pemikirannya itu timbul wujud kedua (al wujudul tsani) yang juga mempunyai substansi. Ia disebut akal pertama (al aklu awwal) yang tidak bersifat materi. Sedangkan wujud kedua berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran inilah timbul wujud ketiga (wujudul tsalis) disebut Akal Kedua (al aklu tsani).

  1. Wujud II atau Akal Pertama itu juga berpikir tentang dirinya hingga timbullah Langit Pertama (al-Asmaul awwal),
  2. Wujud III / Akal kedua menimbulkan Wujud  IV/Akal Ketiga yakni bintang-bintang),
  3. Wujud IV/Akal Ketiga menimbulkan Wujud V/Akal Keempat, yakni Planet Saturnus,
  4. Wujud V/Akal Keempat menimbulkan Wujud VI/Akal Kelima, yakni Planet Jupiter,
  5. Wujud VI/Akal Kelima menimbulkan Wujud VII/Akal Keenam, yakni Planet Mars,
  6. Wujud VII/Akal Keenam menimbulkan Wujud VIII/Akal Ketujuh, yakni Matahari,
  7. Wujud VIII/Akal Ketujuh menimbulkan Wujud IX/Akal Kedelapan,yakni Planet Venus,
  8. Wujud IX/Akal Kedelapan menimbulkan Wujud X/Akal Kesembilan, yakni Planet Mercurius,
  9. Wujud X/Akal Kesembilan menimbulkan Wujud XI/Akal Kesepuluh, yakni Bulan.

Wujud yang dimaksud adalah Wujud Tuhan. Pada pemikiran Wujud XI/Akal Kesepuluh, berhentilah terjadinya atau timbulnya akal-akal. Tetapi dari Akal Kesepuluh muncullah bumi serta roh-roh dan materi yang menjadi dasar dari keempat unsur, yaitu api, udara, air, dan tanah.[3]

3. Politik

Filsafat tentang politik Al-Farabi berpendapat bahwa politik itu adalah ilmu yang mempelajari serta meneliti berbagai tindakan, cara hidup, watak dan akhlak. Menurut al-Farabi, Negara mempunyai warga-warga dengan bakat dan kemampuan yang tidak sama satu sama lain. Di antara mereka terdapat seorang kepala dan sejumlah warga yang martabatnya mendekati martabat kepala, dan masing-masing memiliki bakat dan keahlian untuk melaksanakan tugas-tugas yang mendukung kebijakan Kepala Negara (sebagai sebuah jabatan).  Kemudian dari Kepala Negara, membagi tugasnya kepada sekelompok masyarakat di bawah peringkatnya, kemudian di bawah peringkat tersebut, ada sekelompok orang lagi yang bertanggung jawab untuk kesejahteraan Negara dan begitu seterusnya sampai golongan terendah.[4]

4. Kenegaraan

Tentang filsafat kenegaraan Al-Farabi berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kecenderungan alami untuk bermasyarakat. Hal ini dikarenakan manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Al-Farabi juga mengatakan kalau Negara itu mempunyai warga-warga dengan bakat dan karakter yang berbeda satu sama lainnya. Ia mengatakan sebuah Negara bagaikan tubuh manusia yang ada kepala, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnnya yang masing-masing mempunyai fungsi serta peranannya masing-masing, pendapat Al-Farabi ini dipengaruhi oleh Plato. Disini Al-Farabi menegaskan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang unggul dalam segala hal baik dari bidang intelektual maupun dalam moral atau akhlaknya. Disamping fripentik yang dikaruniakn Allah swt kepadanya, ia harus mempunyai kwalitas-kwalitas yang berupa kecerdasan, pikiran yang tajam, ingatan yang baik, cinta akan pengetahuan dan hal-hal lain yag mengacu pada kebaikan.[5]

5. Kenabian

          Filsafat Al-farabi tentang kenabian, yang mana Al-Farabi mempersoalkan tentang kenabian yang mana ia mengatakan kenabian adalah agama, tetapi agama yang dimaksudkan disisni adalah agama samawi, dimana secara esensial berasal dari pemberitahuan wahyu dan ilham (inspirasi) yang berdasarkan wahyu dan ilhamlah segala kaidah dan sendi-sendi menjadi tegak, seoranga nabi hanyalah manusia biasa yang mana ia diberi kemampuan untuk berhubungan dengan Allah SWT dan mengeksperesikan kehendaknya sebagai suatu keistimewaannya. Nabi adalah utusan Allah yang diberikan mukjizat berupa Wahyu Ilahi, maka dari itu ciri khas seorang Nabi menurut al-Farabi ialah mempunyai daya imajinasi yang kuat dan ketika berhubungan dengan Akal Fa’al dapat menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk Wahyu. Wahyu tidak lain adalah limpahan dari Allah melalui Akal Fa’al (akal kesepuluh) yang dalam penjelasan al-farabi adalah Jibril.[6]

       [1] Sirajuddin Zar,Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya,Jakarta:PT. Rajagrafindo Persada, 2007. hlm.65)

       [2] Sirajuddin Zar,Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, hlm.72)

       [3] Harun Nasution, Filsafat dan Mitisisme, dalam Islam Cet. Ke IX, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal. 27-28

       [4] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, Bandung:Pustaka Setia,2009. hlm. 93

       [5] Sirajuddin Zar,Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, hlm.80

       [6] Sirajuddin Zar,Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, hlm.80

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: