AL QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP

AL QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP


1. QS. Al-An’am/6: 91-92


وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آَبَاؤُكُمْ قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا ۚ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَهُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
92. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya[492] dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.

 Asbabunzul ayat 91 : Dikemukakan dari Ibnu Jarir dari jalan Ibni Abi Thalhah yang bersumber dari Ibni Abbas yang berkata : “ Orang-orang Yahudi berkata: “Demi Allah, Allah tidak menurunkan dari langit suatu kitab”. Maka turunlah ayat tersebut di atas, sebagai bantahan terhadap orang yang mengingkari turunnya kitab kepada manusia.

 Surah   Al-an’am surah ke -6 terdiri dari 165 ayat termasuk surat makiyyah.

 Penjelasan singkat: Pelajaran yang dapat di ambil dari ayat-ayat tersebut yaitu: kita sebagai umat islam harus beriman dan mengamalkan isi al-quran yang telah Allah turunkan melalui rasul-Nya dan menjadikan al-quran sebagai pedoman hidup agar menjadi petunjuk kejalan yang lurus dan tidak tersesat seperti kaum-kaum terdahulu.

 2. QS. Al-Baqarah/ 2: 1-5, 97

الم

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Alif lam mim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

 Asbabunnuzul ; dikemukakan Al-Fayabi dan Ibnu Jarir dari Mujahid, bahwa empat ayat pertama surat al-baqarah membicaran sifat-sifat dan tingkah laku orang-orang mukmin, dan ayat berikutnya membicarakan tentang orang-orang kafir.

 Surah   Al-Baqarah surah ke -2 termasuk surat Madaniyyah.

 Penjelasan ayat:

  1. Adapun huruf-huruf yang terpenggal-penggal di setiap awal surat, maka lebih baik membiarkannya dan tidak mencoba-coba mencari makna-maknanya tanpa ada sandaran yang syar’i, dan diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala tidak menurunkannya dengan sia-sia akan tetapi menyimpan hikmah yang tidak kita ketahui.
  2. Dan firmanNya {ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ}“Kitab itu” yaitu kitab yang dalam arti hakiki, yang mengandung hal-hal yang tidak dikandung oleh kitab-kitab terdahulu maupun sekarang berupa ilmu yang agung dan kebenaran yang nyata, {لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ}“Yang tidak ada keraguan / kebimbangan padanya” dalam bentuk apapun. Meniadakan keraguan dari kitab ini mengharuskan suatu hal yang bertentangan dengannya di mana hal yang bertentangan dengan hal itu adalah keyakinan, maka kitab ini mengandung ilmu keyakinan yang menghapus segala keraguan dan kebimbangan.
  3. {ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ}Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib” Hakikat keimanan adalah pembenaran yang total terhadap apapun yang dikabarkan oleh para Rasul, yang meliputi ketundukan anggota tubuh, dan tidaklah perkara dalam keimanan itu hanya kepada hal-hal yang dapat diperoleh oleh panca indera semata, karena hal itu tidaklah mampu membedakan antara seorang muslim dengan seorang kafir, namun perkara yang dianggap dalam keimanan kepada yang ghaib adalah yang tidak kita lihat dan saksikan, namun kita hanya mengimaninya saja karena ada kabar dari Allah dan kabar dari RasulNya .

4. Kemudian Allah berfirman {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ}Dan mereka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu” yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَنزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepadakmu” (An-Nisa:113),

Maka orang-orang yang bertakwa itu beriman dengan seluruh perkara yang datang dari Rasul, dan mereka tidak membeda-bedakan antara sebagian dengan lainnya dari apa yang diturunkan kepadanya, lalu dia beriman dengan sebagiannya, dan tidak beriman dengan sebagiannya, baik dengan cara mengingkarinya atau dengan mentakwilkannya selain maksud yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan bid’ah, di mana mereka mentakwilkan nash-nash yang bertentangan dengan pendapat mereka, yang pada implikasinya tidak mempercayai makna-maknanya walaupun mereka mempercayai kata-katanya, maka mereka tidak beriman kepadanya secara hakiki. Dan firmanNya, {وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ}Dan apa yang telah diturunkan sebelummu” meliputi keimanan seluruh kitab-kitab terdahulu, yang juga mengandung keimanan kepada kitab-kitab adalah keimanan kepada Rasul-rasul dan kepada hal-hal yang meliputinya pada khususnya Taurat, Injil, dan Zabur, ini adalah keistimewaan kaum mukminin yang beriman kepada kitab-kitab langit seluruhnya, dan kepada seluruh Rasul-rasul dan mereka tidak membeda-bedakan salah satu di antara mereka.

Kemudian Allah berfirman, {وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}Serta mereka yakin akan adanya Akhirat” Akhirat adalah sebuah nama bagi sesuatu yang ada setelah kematian, dan dikhususkan dalam penyebutan setelah kata yang umum karena keimanan kepada hari Akhirat adalah salah satu dari rukun Iman dan karena merupakan pendorong yang paling besar dalam hal harapan, khawatir dan perbuatan, sedangkan keyakinan adalah ilmu yang sempurna yang oadanya tidak ada keraguan sedikitp pun, yang membuahkan perbuatan.

5. {أُولَٰئِكَ}Mereka itulah”, yaitu yang bersifat dengan sifat-sifat terpuji tersebut { عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ} “Yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka” yaitu yang tetap di atas petunjuk yang besar karena pemakaian kata yang tidak terbatas (nakirah) adalah untuk mengagungkan, hidayah apalagi yang paling agung dari sifat-sifat yang telah disebutkan yang mengandung keyakinan yang benar dari perbuatan-perbuatan lurus? Apakah hidayah pada hakikatnya hanya memberikan hidayah mereka sedangkan sesuatu yang selain itu dari sesuatu yang bertentangan dengannya adalah kesesatan? Dan dipakai kata ‘ala “tetap mendapat” dalam posisi kalimat di sini menunjukkan pada ketinggian, adapun dalam posisi kata kesesatan memakai kata “dalam”

Kemudian Allah berfirman, { وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }Dan merekalah orang-orang yang beruntung”, keberuntungan adalah memperoleh hal yang diinginkan dan keselamatan dari hal yang dikhawatirkan. Pembatasan keberuntungan hanya pada mereka karena tidak ada jalan menuju keberuntungan kecuali dengan menempuh jalan mereka, dan jalan-jalan selain jalan tersebut maka itu semua adalah jalan kesengsaraan, kehancuran dan kerugian yang akan menjerumuskan penempuhnya kepada kehancuran.


قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

97. Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

 Asbabunnuzul : Di kemukakan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abdirrohman bin Abi laila, bahwa seorang yahudi bertemu dengan Umar bin Khottob lalu berkata : “ sesungguhnya Jibril yang di sebut-sebut sahabatmmu itu adalah musuh bagi kami” maka berkatalah Umar :” barang siapa yang menjadi musuh Allah, Malaikat-malaikatnya, Rosul-rosu Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuhnya “. Lalu turnlah ayat ini berkenaan dengan apa yang di ucapkan Umar.

 Pelajaran yang dapat diambil : pada ayat ini Allah menjelaskan tentang penolakan alsan-alasa yang dikemukakan orang yahudi dengan menyuruh Nabi Muhammad saw, menyampaikan kepada orang-orang Yahudi, bahwa siapa yang memusuhi Jibril berarti ia telah memusuhi wahyu Allah, karena tugasnya antara lain menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. Barang siapa memusuhi wahyu Allah, berarti ia telah mendustakan Taurat dan kitab-kitab Allah yang lain.

 Alasan yang dikemukakan orang-orang Yahudi adalah alasan yang timbul dari kelemahan dan kerusakan iman. Hal ini menunjukan bahwa permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Jibril tidaklah pantas dijadikan alas an untuk tidak mempercayai kitab yang diturunkan Allah.

 3. QS. Ali Imran/ 3: 7

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ    

 7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

 Surah   Al-Imran surah ke -7 terdiri dari 200 ayat termasuk surat madaniyyah

Penjelasan singkat: Al-Qur’an yang diturunkan Allah itu, di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Ayat yang muhkamat ialah ayat yang jelas artinya, seperti ayat-ayat hukum, dan sebagainya. Ayat mutasyabihat ialah ayat yang tidak jelas artinya, yang dapat ditafsirkan dengan bermacam-macam penafsiran. Seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal-hal yang gaib dan sebagainya.

 Sikap manusia dalam memahami dan menghadapi ayat-ayat yang mutasyabihat, yaitu:

  1. Orang yang hatinya tidak menginginkan kebenaran, mereka jadikan ayat-ayat itu untuk bahan fitnah yang mereka sebarkan dikalangan manusia dan mereka mencari-cari artinya yang dapat dijadikan alasan untuk menguatkan pendapat dan keinginan mereka.
  2. Orang yang mempunyai pengetahuan yang mendalam dan igin mencari kebenaran, mereka harus mencari pengertian yang benar, dari ayat itu. Bila mereka belum atau tidak sanggup mengetahuinya, mereka berserah diri kepada Allah sambil berdo’a dan mohon petunjuk.

 4. QS. Al-Isra’/ 17: 9, 82


إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

9. Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

 Surah   Al-Isra surah ke -9 terdiri dari 111 ayat termasuk surat makiyyah.

 Penjelasan singkat : Al-Quran adalah kitab suci umat islam yang berisi petunjuk sekaligus kabar gembira bagi orang mu’min yang mengerjakan amal soleh berupa pahala yang besar di sisi Allah.


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

82. Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

 Penjelasan singkat : Al-Quran selain menjadi petunjuk bagi orang-orang yang beriman juga sebagai penawar dari segala penyakit dengan izin Allah swt.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: