Masalah Interferensi Bahasa

Bahasa memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Hampir dalam semua kegiatan kehidupan, manusia memerlukan bantuan bahasa, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan khusus seperti kesenian dan ilmu pasti, bahasa merupakan sarana yang tidak dapat ditinggalkan. Menurut Kentjono (1982:115) “karena bahasa demikian pentingnya dalam kehidupan manusia, tidaklah mengherankan apabila banyak perhatian yang mencurahkan pada masalah yang berhubungan dengan bahasa”. Telaah yang melihat bahasa terutama kegiatan masyarakat atau studi yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakainya dikenal dengan nama sosiolinguistik.

Selanjutnya menurut Kentjono (1982:4) bahasa itu adalah “sebuah sistem, dan diartikan bahwa bahasa itu sekaligus sistematis dan juga sistemis”. Bahasa itu terdiri dari proses fonologi (mencakup segi-segi bunyi bahasa, baik yang bersangkutan dengan ciri-cirinya maupun yang bersangkutan dengan fungsinya dalam komunikasi), subsistem gramatika atau tata bahasa (yang terbagi atas morfologi dan semantik), subsistem leksikom (mencakup pembendaharaan kata suatubahasa). Jadi bahasa memiliki sistem fonologi, morfologi dan sintaksis.

Menurut Lindgren (Nababan, 1984:1) berbahasa adalah “suatu kegiatan yang dilakukan selama kita hidup, sehingga kita menganggap berbahasa itu sebagai sesuatu yang normal, bahkan alamiah seperti bernafas”. Adanya bahasa membuat kita menjadi makhluk yang bermasyarakat (makhluk sosial). Kemasyarakatan kita tercipta dengan bahasa, dibina dan dikembangkan dengan bahasa.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang mendiami pulau-pulau di seluruh nusantara, dari sekian banyak suku bangsa tersebut satu sama lain mempunyai pola atau corak kehidupan yang berbeda-beda, setiap suku bangsa memiliki kebudayaan dan bahasa nasional.

Bahasa berperan dalam segala aspek kehidupan manusia. Salah satu peran tersebut adalah untuk memperlancar proses sosial manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat Nababan (1984:2) bahwa “bahasa adalah bagian dari kebudayaan dan bahasalah yang memungkinkan pengembangan kebudayaan sebagaimana kita kenal sekarang”. Hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakainya mencakup segi yang sangat luas. Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa atau menganggap diri mereka memakai bahasa yang sama.

Dalam ilmu bahasa (linguistik) terdapat dua tataran, yaitu tataran fonologi dan tataran gramatika atau tata bahasa. Dalam tata bahasa terdapat sub bahasan morfologi dan sintaksis. Menurut Zaenal (2007:2) morfologi adalah “bagian tata bahasa yang membicarakan perihal hubungan antar morfem dalam sebuah kata” sedangkan sintaksis adalah “ilmu yang membicarakan hubungan antar kata dalam tuturan (speech) mencakup ruang lingkup frasa, klausa, dan kalimat”.

Pada dasarnya interferensi merupakan suatu bentuk gangguan yang terjadi dalam menggunakan bahasa sebagai akibat dari ketidak seimbangan pengunaan bahasa tersebut baik berupa bunyi, kata atau kontruksi lainnya. Adanya penyimpangan bahasa dapat mengakibatkan terjadinya kontak bahasa yang merupakan gejala awal interferensi. Menurut Suwito (dalam Avid 2008:2) “adanya penyimpangan-penyimpangan bukan berarti pengrusakan terhadap bahasa”.

Interferensi merupakan fenomena penyimpangan kaidah kebahasaan yang terjadi akibat seseorang menguasai dua bahasa atau lebih. Interferensi sebagai penyimpangan karena unsur yang diserap oleh sebuah bahasa sudah ada padanannya dalam bahasa penyerap. Jadi, manifestasi penyebab terjadinya interferensi adalah kemampuan penutur dalam menggunakan bahasa tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: