Jenis-Jenis Morfologi Morfem

Secara morfologi morfem dibedakan menjadi morfem terikat dan morfem bebas, hal ini sejalan dengan pendapat Zaenal (2007:2) yang merumuskan konsep dasar morfologi yaitu :

  1. Morfem

Adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna. Kata anak/anak adalah satu morfem, karena mempunyai arti dan tidak dapat dianalisis lagi atas dua atau lebih bagian yang bermakna umpamanya menjadi / a-/dan/-nak/atau/-an/dan/-ak/. Jadi memang urutan fonem anak/ adalah bentuk terkecil dan mempunyai makna. Lain halnya dengan kata anakmu/ anakmu yang dapat kata analisis lagi menjadi /anak-/ yang maknanya sama dengan kata “anak” dan tadi /-mu/ yang bermakna punya engkau.

Morfem terdiri dari dua macam, yaitu:

a. Morfem bebas, adalah morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti jual, beli, duduk, dan tidur yang merupakan satuan terkecil yang memiliki makna.

Contoh:

Membeli → morfem bebas : beli

b. Morfem terikat, adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri, seperti mem, men, ke-an, pem-an yang baru mempunyai arti jika ditambah kata pembentuknya.

Contoh :

Membeli → morfem terikat : mem

c. Morfem unik, yaitu morfem yang mengandung arti tersendiri, tetapi baru dapat berdiri sendiri setelah didampingkan dengan morfem bebas lainnya, seperti juang baru dapat berarti setelah didampingi dengan morfem bebas daya menjadi daya juang, atau didampingi dengan pe menjadi pejuang.

Selanjutnya Kentjono (1982:41) juga membedakan jenis morfem berdasarkan beberapa ukuran,  seperti:

  1. Jenis morfem berdasarkan banyaknya alomorf yang menyatakannya
  2. jenis morfem menurut kemungkinannya berdiri sebagi kata. Morfem seperti (me) dan (ber) menurut penggolongan ini disebut morfem terikat, karena keduanya tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata, melainkan selalu ada bersama dengan morfem lain. Sebaliknya, mofem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata bahkan sebagai kalimat jawaban atau perintah disebut morfem bebas.

 Jenis morfem menurut jenis fonem

morfem juga dapat dibedakan menurut macam maknanya, ada golongan morfem yang mempunyai semacam makna dasar yang menunjuk kepada benda, hal, perbuatan, atau sifat yang terdapat disekitar kita. Morfem seperti ber, me, kan, dan, di.

2. Alomorf

Adalah anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi mempunyai fungsi dan makna yang sama

3. Kata Dasar

Merupakan dasar kata

Menurut Kentjono (1982:44)  membagi proses morfologi menjadi tiga proses yaitu:

1.  Afiksasi atau proses pengimbuhan adalah pengimbuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan itu berupa tunggal maupun bentuk komplek, untuk membentuk kata (penambahan afiks). penambahan afiks dapat dilakukan di depan, (disebut prefiks), di tengah, (disebut sisipan) atau di belakang morfem kata dasar (disebut sisipan). Atau infiks yang di belakang (disebut akhiran sufiks), yang di depan dan di belakang (disebut sirkumfiks atau komfiks)

  1. Reduplikasi atau proses pengulangan adalah satuan gramatik, baik seluruh ataupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan ini disebut kata ulang, sedangkan yang diulang merupakan bentuk dasar.
  2. Komposisi atau proses pemajemukan adalah gabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Seperti barangkali, kaki lima, rajasinga masing-masing dianggap sebagai satu kata, maka semuanya merupakan hasil pemajemukan.

Jadi, proses morfologi sebagai proses yang mengubah bentuk kata, memberikan kedudukan gramatikal yang penting pada kata dan bentuknya, terutama dalam memungkinkan kata itu berperan dalam kalimat atau dalam menandai hubungan sintaktis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: