Siklus Belajar Karplus

Siklus belajar (Learning Cycle) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang lebih fleksibel, teruatama bagi seoarang yang kurang mendapat pengalaman secara langsung, ehingga melalaui siklus bealajar meraka akan mempereroleh pengalaman tersebut. Siklus bealajar merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswwa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif.

Robert Karplus merupakan orang yang pertama menemukan siklus ini, yang kemudaian disebut dengan “siklus belajar karplus”. Robert Karplus (1967) membagi siklus tersebut dalam tiga kelompok besar, yaitu: fase eksplorasi (exploration), fase pengenalan konsep (concept invention), dan fase aplikasi konsep (concept extention) (Karplus dan Their dalam Renner et el, 1988).

a. Fase Eksplorasi (Exploration)
Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan untuk memanfaatkanpanca ibderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan sperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau prilaku sosial, dan lain-lain.

Dari kegiatn ini diharapkan timbul ketidak seimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan ynag mengarah pada perkembangan daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti, mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005, Rahayu, 2005).
Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan indilkator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya, fase pengenalan konsep.

b. Fase Pengenalan Konsep (Concept Invention)
Pada fase ini diharapkan terjadai proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Implementasi siklus belajar dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan konstruktivis yaitu:

1. Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.
2. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang dimilikia siswa berasal dari interpretasi individu.
3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah (Hudojo, 2001).
Pada fase ini siswa mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari.

c. Fase Aplikasi Konsep (Concept Extention)
Pada fase ini siswa diajak menerapkan konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving (menyelesaikan problem-probem nyata yang berkaitan)atau melakukan percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena siswa mengatahui penerapan nyata dari konsep yang meraka pelajari.

Implementasi siklus belajar (learning cycle) dalam pembelajaran menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase terebut mulai dari perencanaan (terutama pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi.

Dilihat dari dimensi guru penerapan strategi ini memperluas wawasan dan meningkatkan kreatifitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Sedangkan ditinjau dari dimensi pembelajaran, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai berikut:

1. Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar.
3. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut (Soebagio, 2000):

1. Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2. Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
3. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.
4. Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: