Pendekatan Contextual Teaching and Learning

Winataputra (1994) menyatakan bahwa pendekatan adalah suatu konsep atau prosedur yang digunakan dalam membahas suatu bahan pelajaran untuk tujuan belajar mengajar. Pendekatan Contextual Teaching and Learning memilki beberapa definisi, antara lain:

1. Menurut Depdiknas (2003) menyatakan bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilkinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

2. Menurut Jhonson (2007) dijelaskan bahwa Contextual Teaching and Learning adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.

3. Menurut Kunandar (2007) menyatakan bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu guru menghubungkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilkinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

4. Menurut Sanjaya (2006) pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan pengalaman yang dimilkinya dengan penerapannya agar siswa lebih mudah dalam menangkap makna pelajaran. Dari pengertian ini ada tiga hal yang bisa dipahami dari konsep Contextual Teaching and Learning yaitu: pertama, menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Kedua, mendorong siswa agar dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga, menolong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan, artinya Contextual Teaching and Learning bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi dapat langsung diaplikasikan dalam kehidupan. Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning yang dikemukakan oleh Zahorik dalam Depdiknas (2003) antara lain:

1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.

2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge), artinya pengetahuan diperoleh secara deduktif yaitu dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.

3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami.

4. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa.

5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge), hal ini dilakukan untuk memperbaiki strategi belajar yang dipakai.

Di dalam proses pembelajaran terdapat asas atau komponen yang melandasi pelaksanaan pendekatan Contextual Teaching and Learning. Menurut Sanjaya (2006), komponen-komponen tersebut adalah:

1. Kontruktivisme, yaitu proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri, yaitu proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
3. Bertanya, yaitu bertujuan agar guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajari.
4. Masyarakat belajar (Learning Community), yaitu membagi siswa dalam kelompok-kelompok sesuai dengan kemampuan kognitif, minat dan bakatnya masing-masing dalam proses pembelajaran
5. Pemodelan, yaitu proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru setiap siswa.
6. Refleksi, yaitu cara berpikir kebelakang untuk dilakukan perbaikan pada pertemuan berikutnya.
7. Penilaian sebenarnya (authentic assessment), yaitu proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran pembelajaran siswa.

Sedangkan menurut Jhonson (2007), Komponen-komponen dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah sebagai berikut:
1. Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, yaitu mengaitkan pelajaran dengan pengalaman sebelumnya.
2. Melakukan pekerjaan yang berarti, yaitu dengan menemukan makna dalam pembelajaran.
3. Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, yaitu dengan menyusun pengetahuan baru berdasarkan pengalaman.
4. Bekerja sama, yaitu dengan belajar melalui kelompok-kelompok untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
5. Berpikir kritis dan kreatif. Kritis adalah kemampuan untuk mengatakan sesuatu dengan percaya diri dan kreatif dapat diaplikasikan dengan memmbuat dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan permasalahan yang diberikan.
6. Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, artinya siswa dibimbing untuk mengembangkan minat dan bakat sesuai kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi, yaitu memperoleh prestasi akademik yang tinggi.
8. Menggunakan penilaian autentik proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran pembelajaran siswa.

Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah sebagai berikut:
1. Kontruktivisme, yaitu proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri, yaitu proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
3. Bertanya, yaitu bertujuan agar guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajari.
4. Masyarakat belajar (Learning Community), yaitu membagi siswa dalam kelompok-kelompok sesuai dengan kemampuan kognitif, minat dan bakatnya masing-masing dalam proses pembelajaran
5. Pemodelan, yaitu proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru setiap siswa.
6. Refleksi, yaitu cara berpikir kebelakang untuk dilakukan perbaikan pada pertemuan berikutnya.
7. Berpikir kritis dan kreatif. Kritis adalah kemampuan untuk mengatakan sesuatu dengan percaya diri dan kreatif dapat diaplikasikan dengan memmbuat dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan permasalahan yang diberikan.
8. Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, artinya siswa dibimbing untuk mengembangkan minat dan bakat sesuai kemampuannya.
9. Mencapai standar yang tinggi, yaitu memperoleh prestasi akademik yang tinggi.
10. Menggunakan penilaian autentik proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran pembelajaran siswa.

Sehubungan dengan komponen di atas terdapat tiga prinsip ilmiah dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning, diantaranya (a) prinsip kesaling-bergantungan, (b) prinsip diferensiasi, (c) prinsip pengaturan diri. Ketiga prinsip tersebut sangat menentukan keberhasilan dari penerapan pendekatan tersebut dalam kelas. Prinsip kesaling-bergantungan memungkinkan siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan kerja sama untuk menemukan dan memecahkan persoalan bersama sedangkan prinsip diferensiasi mencakup pembelajaran aktif dan langsung (hands-on) yang menantang siswa untuk menciptakan kreativitas terbaru. Selain itu terdapat juga prinsip pengaturan diri yang mencakup minat, usaha dan penilaian autentik. Keterkaitan ketiga prinsip tersebut sangat membantu siswa menemukan makna dalam pelajaran dengan membuat hubungan-hubungan penting dengan melaksanakan pembelajaran kontruktivisme, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, mencapai standar tinggi, dan berperan serta dalam penilaian autentik.

Depdiknas (2003) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning dalam kelas adalah sebagai berikut :
1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4) Ciptakan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok).
5) Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran.
6) Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Dari langkah-langkah tersebut dapat disimpulkan bahwa peran siswa dan guru dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah sebagai berikut:

a) Peran siswa
1. Siswa bekerja sendiri dalam menemukan konsep pelajaran
2. Siswa menyusun sendiri pengetahuan baru yang diperoleh berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya.
3. Siswa menemukan sendiri makna dari konsep yang dipelajari
4. Siswa dituntut aktif bertanya dan menjawab pertanyaan.
5. Siswa membentuk kelompok-kelompok belajar.

b) Peran guru
1. Guru membimbing dan mengarahkan siswa untuk mampu bekerja sendiri, mampu menyusun pengetahuan baru berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, dan mampu menemukan sendiri makna pelajaran
2. Guru menggali kemampuan siswa dengan bertanya.
3. Guru membimbing siswa untuk membentuk kelompok-kelompok belajar
4. Guru menghadirkan model pembelajaran, misalnya dengan memperkenalkan alat-alat percobaan.
5. Guru melakukan refleksi pembelajaran
6. Guru memberikan penilaian yang sebenarnya kepada siswa

Dalam suatu pembelajaran, pendekatan hanya salah faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran. Masih banyak faktor lain, diantaranya kurikulum yang menjadi acuan dasarnya, program pengajaran, kualitas guru, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber belajar dan teknik/bentuk penilaian. Ini berarti pendekatan hanyalah salah satu faktor dari sekian banyak faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam keseluruhan pengelolaan pembelajaran, walaupun demikian penerapan pendekatan tertentu dirasa penting. Pendekatan dalam proses pembelajaran memang bukan satu-satunya penentu keberhasilan namun pendekatan mampu mengantarkan proses pembelajaran secara efektif. Pendekatan dalam suatu pembelajaran dirasa penting karena dua hal, petama: penentuan isi program, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber belajar dan teknik bentuk penilaian harus dijiwai oleh pendekatan yang dipilih. Kedua, satu acuan untuk menentukan keseluruhan tahap pengelolaan pembelajaran adalah pendekatan yang dipilih (Muslich, 2007).

Dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning menyatakan bahwa makna belajar bukan hanya menghafal akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki, sehingga belajar adalah proses pemecahan masalah sebab dengan memecahkan masalah akan melatih perkembangan intelektual, emosi dan mental siswa. Selain itu, belajar bukan hanya mengumpulkan fakta tetapi mengaitkan dengan pengalaman sehingga belajar pada hakkikatnya dalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat tujuh strategi yang dapat ditempuh untuk melaksanakan pendekatan Contextual Teaching and Learning yang sejalan dengan lankah-langkah dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning. Ke-tujuh strategi tersebut dikemukakan oleh Johnson (2007), antara lain:

1) Pengajaran berbasis problem.
2) Menggunakan konteks yang beragam.
3) Mempertimbangkan kbhinekaan siswa.
4) Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri.
5) Belajar melalui kolaborasi.
6) Menggunakan penilaian autentik.
7) Mengejar standar tinggi.

Jhonson (2007) menyatakan bahwa tujuan dari pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah sebagai berikut:
1) Menolong semua siswa mencapai keunggulan akademik.
2) Memberdayakan setiap anak agar bisa mewujudkan seluruh potensinya.
3) Menarik minat dan menantang para siswa agar mereka melihat makna dalam pelajaran mereka dan oleh karena itu termotivasi untuk mencapai tujuan akademik yang tinggi.

Menurut Sanjaya (2006) kelebihan dan kekurangan pendekatan Contextual Teaching and Learning adalah sebagai berikut:

1) Kelebihan pendekatan Contextual Teaching and Learning
a) Memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk mengembangkan harapan mereka, untuk mengembangkan bakat mereka, dan mengetahui informasi terbaru, serta menjadi anggota sebuah masyarakat demokrasi yang cakap.
b) Memberi para siswa kesempatan untuk menemukan makna dan arti diri dalam pelajaran akademik dengan benar-benar mengaitkan pekerjaan sekolah dengan kehidupan sehari-hari dan minat mereka.

2) Kekurangan pendekatan Contextual Teaching and Learning
a) Guru harus meluangkan waktu yang lebih banyak untuk mencari informasi-informasi terbaru yang nantinya dapat berguna dalam proses pembelajaran di kelas sehingga membutuhkan tenaga dan pikiran yang cukup melelahkan dan menyita waktu
b) Membutuhkan waktu belajar yang cukup lama.

Untuk mengantisipasi kekurangan tersebut, maka dilakukan beberapa cara seperti yang dikemukakan oleh Jhonson (2007) sebagai berikut:
1. Guru menugaskan siswa untuk mencari informasi penting dan terbaru yang berhubungan dengan konsep pelajaran, baik dari media cetak maupun elektronik sehingga dalam kelas guru hanya membantu dalam menjelaskan informasi yang didapat siswa tersebut.
2. Guru menugaskan siswa membaca pelajaran berikutnya di rumah sehingga siswa lebih mudah dalam menemukan makna pelajaran.
3. Guru memberikan waktu belajar tambahan jika jam pelajaran dirasa kurang dan siswa belum memahami konsep pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: