Model Pembelajaran Konstruktivisme

Teori pembelajaran konstruktivisme pertama kali dicetuskan oleh Piaget dan Vygotsky. Konstruktivisme dalam arti dasar adalah membangun. Dimana yang dibangun adalah konsep/materi yang akan dipelajari, yang mana konsep tesebut dibangun oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran kostruktivisme di sini berarti suatu cara dimana individu atau anak didik tidak sekedar mengimitasi dan membentuk bayangan dari apa yang diamati atau yang diajarkan guru, tetapi secara aktif individu atau anak didik itu menyeleksi, menyaring, memberi arti dan menguji kebenaran atas informasi yang diterimanya.

Pengetahuan yang dikonstruksikan individu merupakan hasil interpretasi yang bersangkutan terhadap peristiwa atau informasi yang diterimanya. Menurut model pembelajaran konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif pembelajar mengkonstruksi arti (teks, pengalaman fisis, dialog dan lain-lain). Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan.

Widodo (2004) mengidentifikasi lima hal penting yang berkaitan dengan belajar dan mengajar menurut pembelajaran konstruktivisme, yaitu :

a. Pembelajar telah memiliki pengetahuan awal. Tidak ada pembelajar yang otaknya benar-benar kosong. Pengetahuan awal yang dimiliki pembelajar memainkan peran penting saat dia belajar tentang sesuatu hal yang ada kaitannya dengan apa yang telah diketahui.
b. Belajar merupakan proses pengkonstruksian suatu pengetahuan berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki.
c. Belajar adalah perubahan konsepsi pembelajar. Karena pembelajar telah memiliki pengetahuan awal, maka belajar adalah proses pengubah pengetahuan awal siswa sesuai dengan konsep yang diyakini “benar” atau agar pengetahuan awal siswa bisa berkembang menjadi suatu konstruksi pengetahuan yang lebih besar.
d. Proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung dalam suatu konteks sosial tertentu, misalnya suatu lingkungan kelas.
e. Pembelajar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Guru atau siapapun tidak dapat memaksa siswa untuk belajar, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengatur proses berpikir seseorang. Guru hanyalah menyiapkan kondisi yang memungkinkan siswa belajar, namun apakah siswa benar-benar belajar tergantung pada diri pembelajar itu sendiri.

Dari uraian di atas, pembelajaran konstruktivisme dapat dilakukan di kelas dengan melibatkan siswa secara aktif dalam belajar dan dibutuhkan kerjasama yang baik antara guru dengan murid. Dengan demikian, pembelajaran kontrukstivisme membuat belajar menjadi lebih bermakna bagi siswa. Namun membutuhkan persiapan yang matang sehingga pembelajaran kontrukstifisme efektif untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: