Hakekat Sains

Hakekat Sains
Pada hakikatnya sains dibangun atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah dan sikap ilmiah. Selain itu sains dipandang pula sebagai proses, sebagai produk dan sebagai prosedur (Marsetio Donosepoetro, 1990: 6). Sebagai proses diartikan sebagai semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam ataupun tentang pengetahuan baru. Sebagi hasil produk diartikan sebagai hasil proses, berupa pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah atau diluar sekolah, ataupun bahan bacaan untuk penyebaran atau dissiminasi pengetahuan. Sebagai prosedur dimaksudkan adalah sebagai metodologi atau cara yang dipakai untuk mengetahui suatu (riset pada umumnya) yang lazim disebut sebagai metode ilmiah (scientific methode).

Menurut Laksmi Prihantoro dkk (1986) mengatakan bahwa sains hakikatnya merupakan suatu produk, proses dan aplikasi. Sebagai produk, sains merupkan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep serta bagan konsep. Sebagai suatu proses, sains merupakan suatu proses yang dipergunakan yang dipegunakan untuk mempelajari suatu objek studi, menemukan dan mengembangkan produk-produk sains. Dan sebagai aplikasi, teori-teori sains akan melahirkan tekhnologi yang dapat memberi kemudahan bagi kehidupan.

Secara umum sains meliputi tiga bidang ilmu dasar yaitu biologi, fisika dan kimia. Fisika merupkan salah satu cabang dari sains, dan merupakan ilmu yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan serta penemuan teori dan konsep.

Secara khusus fungsi dan tujuan sains berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi (Depdiknas, 2003: 2) adalah sebagai berikut:

1. Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mengembangkan sikap, keterampilan dan nilai ilmiah.
3. Mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi.
4. Menguasai sains untuk bekal hidupdi masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Dari fungsi dan tujuan tersebut kiranya semakin jelas bahwa hakikat sains tidaklah semata-semata pada dimensi pengetahuan (keilmuan) tetapi lebih dari itu sains lebih menekankan pada dimensi nilai ukhrawi, diamana dengan memperhatikan keteraturan dialam semesta akan semakin meningkatkan keyakinan akan adanya sebuah kekuatan yang Maha Dahsyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: